List of BOM all Material under CS01, CS02, CS03 (SQVI, SE93)

Langkah -langkah SQVI (Create Query)

  • Tabel –tabel yang akan di join adalah table (STPO, STAS & MAST)
  • Field Join dari masing-masing tabel

Contoh Customize Report yang akan dikeluarkan:

SQVI

Masukkan Nama QuickView (free text).  à  Create

Edit  à  Insert Tabel  (masukkan berdasarkan urutan)

  1. STPO
  2. STAS
  3. MAST

Relasi / Join sesuaikan dengan gambar dibawah, Jika tidak sesuai, bisa diputuskan/dilepas dengan, arahkan pada (line joint), klik mouse kanan, kemudian delete.

Contoh:  field internal control saya akan lepaskan (Delete link)

Kemudian tekan tombol back 

Expand Segitiga di masing-masing file tabel untuk mengisikan :  field selection yang akan tampil dilayar / pilihan parameter  &  field yang akan dimunculkan di report.

SAP PP – Sales & Operation Planning

Process Flow of Standard SOP

  1. Information Structure   –> MC21/MC22/MC23   =  S076
  2. Cek Planning Method    –> MC7F
  3. Creation of Product Group  –> MC84=create/MC85=display/MC86=change (MM01 – Product group)
  4. Create plan in inactive version  –> MC81
  5. Disaggregate product group plan  –> MC76
  6. Convert inactive version to active version  –> MC78
  7. Transfer SOP plan  to demand management  –> MC75

SAP COMPUTERIZED KANBAN

Definisi KANBAN

  • sistem penjadwalan untuk manufacturing yang berasal dari sistem TPS (Toyoya Production System).
  • Pull System: produksi didasarkan pada permintaan pelanggan, lebih dari standard praktis untuk push memproduksi barang dan mendorongnya ke pasar
  • Tujuan utamanya adalah meminimalkan aktivitas waste tanpa mengorbankan produktivitas
  • Tujuan utamanya adalah untuk menciptakan nilai lebih bagi pelanggan tanpa menghasilkan banyak biaya

dengan KANBAN, material distagging di mana ia digunakan. itu tetap ada untuk digunakan, dalam buffer material kecil. sehingga stagging material tidak perlu di planning. sebagai gantinya, material yang dikonsumsi segera diisi ulang/replenished menggunakan kanban.


KANBAN, sebagai kontrol produksi, sinyal kanban untuk pengiriman material dapat dipicu oleh sumber permintaan yang mengirim kartu yang menjelaskan material mana yang akan dikirim dan quantity yang akan dikirim.


Nama kanban awalnya sistem dari kartu-kartu, yang disebut “KANBAN” dalam bahasa Jepang. itu juga merupakan praktek umum untuk menyebut CONTAINER/wadah sebagai sebuah KANBAN.

For Example:
Issuing of diagram KANBAN Concept.

PCPSAFIN01   =  Production Supply Final
PCPSAAS01    =  Production Supply Assembly
PCPSAST01     =  Production Supply Start


TCODE

  • PK05    (Maintain)
  • PK06    (Display)
  • PKMC  (Control Cycle Maintenance)
  • PK13N (Demand Source View)
  • PK11    (Evaluation Plant Overview)
  • PK18    (Evaluation Control Cycles/KANBAN)
  • PK50    (Evaluation Display Error)
  • MCQ    (Evaluation Information System)
  • PK058  (Quick Entery Supply to Production Area)

SPRO

  1. KANBAN -> Replenishment Strategies  -> Define In-House Production Strategies  
  2. KANBAN -> Status  à Define Status Sequence
  3. KANBAN -> Kanban Board  -> Define Kanban Display in The Kanban Board  

Purchase Order – Subcontracting

Purchase Order by Subcontracting adalah model support material yang didroping ke vendor untuk kebutuhan permintaan / requirement proses produksi.
Hal ini dilakukan karena overload proses produksi sehingga perlu bantuan vendor untuk membuatkan finished product agar dicapai target proses produksi.

Media yang diperlukan untuk tersebut adalah supply raw material / GI ke vendor dan GR hasil finished product dari vendor.

  1. Create BOM (CS01)
  2. Create Production Version (C223)
  3. Create Purchase Order (ME21N)
  4. Dropping stock raw material ke vendor (ME2O)
  5. Good Receipt hasil finished product (MIGO)
  6. Payment

541 Dropping stock to Vendor

543 GI Consume, hasil finished product

Catalog, Code Groups, Codes, Selected Set

Overview Codes

CODE adalah untuk menentukan bagaimana defect tertentu, penyebab defect, problem & sebagainya harus dicatat dan dievaluasi.

CODE GROUPS adalah summary dari CODE berdasarkan content (Ex: surface attribute, color)

CATALOG adalah the summary dari CODE GROUPS berdasarkan content (Ex: defect type, cause, characteristics attribute). CATALOG ini adalah untuk mendefinsikan, manage dan standardize information

SPRO compare with QS41

Quality Management –> Inspection Lot Completion –> Edit Code Groups and Codes for UD

Automatic Batch Valuation & Recurring Inspection in QM

Overview

Hubungan antara MIC dan karakteristik kelas memungkinkan Anda untuk mentransfer hasil pemeriksaan kualitas/inspection ke klasifikasi batch, sehingga sistem dapat mengaksesnya dalam penentuan batch.

Ini hanya dapat terjadi jika material akan ditangani dalam batch dan kelas batch harus ditetapkan ke master material dalam tampilan klasifikasi.

Karakteristik kelas dari kelas batch secara otomatis dinilai pada penyelesaian inspeksi, berdasarkan hasil inspeksi.

Statistical Process Control (SPC) – SAP Quality Management

Agenda:

  1. Overview
  2. Use of Control Charts
  3. Types of  Control Charts
  4. Planning of Control Charts
  5. Generation of Control Charts

Overview

Statistical Process Control (SPC) memungkinkan Anda untuk memantau, mengontrol, dan meningkatkan proses.

SPC adalah tools penting didalam memetakan kontrol

Dalam komponen QM, Anda dapat mempertahankan grafik kontrol untuk karakteristik kualitatif dan kuantitatif.

Quality Control Charts adalah alat grafis untuk membantu Anda mengidentifikasi varian sistematis karakteristik kualitas dari nilai target berdasarkan fluktuasi nilai karakteristik yang tidak dapat dihindari.

Scenario Production Order Tidak bisa diClose (CLSD)

Production Order yang related dengan Quality Inspection (QM), karena proses releasing quality terjadi secara abnormal, hal ini disebabkan karena ada proses reverse atau terjadi proses perbaikan data backflushing/auto GR yang dilakukan dengan menggunakan tcode COGI,  menyebabkan issue sebagai berikut:

  1. Inspection Lot belum di UD code
  2. Inspection Lot belum di proses goods movement dari QI stock
  3. Inspection Lot tidak ada Task list

Maka proses normalisasi releasing inspection impact to order adalah :

  • Menggunakan QA33 – Change icon, kemudian change pada UD (Usage decesion) dan change Result Recording / RR
  • Menggunakan QA02 – per inspection Lot dengan catatan Status Lot Belum di UD kemudian pada menu Correction actual Qty maka kita dapat melakukan correction Qty including meng Nol kan actual quantity
  • Jika sudah terlanjur di UD dan posisi stock masih menggantung / deficit, maka solusinya inspection lot tersebut di Cancel

SAP Query – SQ01, SQ02, SQ03

Objective – able to create simple SAP query
Why do we need SAP query
Pre requisitie
Transaction – Codes

Why we need SAP query

  1. No need of technical consultants
  2. User can create report as per his/her requirement
  3. Offers flexibility

Pre-requisite

  1. SAP Tables
  2. Material master – MARA, MARC, MBEW
  3. Vendor master – LFA1, LFB1, LFM1
  4. Purchase order tables – EKKO, EKPO, EKBE

Transaction codes:

  1. SQ03 – create/change/display user group
  2. SQ02 – create/change/display infoset
  3. SQ02 – assign infoset to user group
  4. SQ01 – create/change/display query
  5. SQVI – quick view for own use (no use of SQ01, SQ02, SQ03)

SAP PP – Work Center Configuration

Agenda Configuration:

  • Configuration – Basic Data
  • Configuration – Shop Floor Control
  • Custom Configuration – Factory Plant

Configuration – Basic Data

  1. Work center – Standard Value – Define parameter
  2. Work center – General Data – Standard Value – Define Standar Value Key
  3. Work center – General Data – Determine Person Responsible
  4. Work center – Routing Data – Define Control Key
  5. Work center – Capacity Planning – Determine Capacity Planner
  6. Work center – Capacity Planning – Work Center Formulas
  7. Routing – Control Data – Define number Range for Routing
  8. Routing – General Data – Configure Planner Group
  9. Material Assignment

Configuration – Shop Floor Control

  1. Define Order Type
  2. Define Order Type Dependent Parameter
  3. Number Range Order
  4. Production Scheduling Profile
  5. Production Supervisor
  6. Checking Control
  7. Scheduling parameter for production Order
  8. Define Confirmation Parameter
  9. Custom Configuration – Factory Plant
  1. Factory Plant Setting
  2. Define Factory’s Plant

Backflushing SAP PP and UOM Conversion

Sebelum create production order yang mengunakan konsep backflushing, kita asumsikan suatu produksi pembuatan ROTI TAWAR dimana komposisi dari bahan yang diperlukan adalah TEPUNG, TELOR dan GARAM.

ROTI TAWAR:

TEPUNG

TELOR

GARAM

Pembuatan UOM baru dapat dilakukan dengan menggunakan tcode CUNI

STEP by STEP using SAP IDES ECC6 SR2

  • Install dulu VMWare Playernya
  • Setelah terinstall jalanin vmware playernya ( khusus vista ato win 7 ‘run as administrator’ )
  • Setelah dijalankan vmware playernya akan muncul tampilan spt gambar di bwh, lalu pilih open

Setelah pilih open , buka drive dimana terdapat folder IDESECC6 (MASXDB), lalu pilih Windows Server 2003 Standart Edition.vmx spt tampilan gambar di bawah lalu open

  • Setelah di open, akan ada tampilan pilihan
    • I moved it
    • I copied it

Pilih I copied it, lalu OK

  • Akan muncul tampilan gambar spt di bwh ini, klik tombol Start/play

Atau klik kanan pada SIP terus pilih start

SAP MM – Physical Inventory Document (PID) / Stock Opname

Stock Opname adalah proses stock secara phisik dilapangan untuk mendapatkan data barang secara real time, hal ini sangat diperlukan untuk mengurangi kehilangan barang & mengetahui berapa nilai asset yang dimiliki perusahaan.

Ada satu kesepakatan sebelum memlakukan proses stock opname dimana semua departement terkait ke SAP , department warehouse, produksi, delivery & accounting untuk tidak melakukan proses mutasi barang / tidak boleh melakukan transaksi apapun di SAP dan sepakat untuk memberhentikan kegiatan transaksi SAP pada pembelian, proses dan penjulan, hal ini untuk mendapatkan data yang akurat, untuk itu ke semua departement terkait yang stocknya belum clear / pending maka disarankan untuk segera menyelesaikannya sebelum opname atau dialihkan prosesnya ke future date.

SAP SAP PP Integration with PI

Discrete Manufacturing Process

This manufacturing process is nothing but a assembling manufacturing process for example manufacturing of a cycle we need subcomponents like seat, rim, handle, peddle, chain, stand etc… and we can assemble and if you want to disassemble the assembly cycle we can get back the subcomponents.
Discrete is the terminology given by SAP but normally we called this process as a assembly manufacturing process.
The master data we maintain in discrete manufacturing process is material master, BOM, work center and routing (task list and the order we create is production order.

Example: Manufacturing a cycle or a motor cycle or cars

Process Manufacturing Process

This manufacturing process is used for process industries for example: food, chemical, Pharma, mining industries where once the finished product is produced we cannot dis assemble the subcomponents used or involved to the get the finished product therefore we called this process manufacturing process.

The master data we maintain in process manufacturing process is material master, BOM,work center (resource – resource category should take processing unit normally) and routing (master recipe – additional functionalities include process management and PI sheets) and the order we create is process order.

Example: food – biscuits, ice creams etc …
Chemical – chemical preparations – liquids, acids etc…
Pharma – tablets, Syrup etc…

Steps to perform PP PI Process

Create a material master with FERT material type by selecting the extra views like – 10 – MM01
Create BOM – CS01
Create Resource – CRC1, C2, C3
Create master recipe – C201, 202, 203
Phases describes the details steps of the operation
Create PIR – MD61
Run MRP – MD02
Process the planned orders – MD04
Convert planned order to process order – COR7
Manual creation of the process order – COR1, 2, 3
Release Process Order – COR2
GI wref to process order – MB1A / 261
Confirmation of the process order – COR6N /  CORK
GR wref to process order – MIGO / MB31

Langkah – langkah proses “Repetitive Manufacturing (REM)

  1. Create Repetitive Manufacturing profile in configuration setting
  2. Create MMR untuk raw material and finished components – MM01
  3. Maintain the stock for the sub components – MB1C/501
  4. Create BOM – CS01
  5. Create Work Center – CR01
  6. Create Rate Routing – CA21
  7. Create Production Version – C223
  8. KKF6N – create Product cost collector
  9. Create PIR – MD61
  10. Run MRP – MD02
  11. Stock/Requirement list – MD04
  12. Planning table – MF50 – Line loading
  13. REM backflush – MFBF – confirmation
  14. Monitor MMBE

Configuration.
Create Repetitive Manufacturing profile in configuration setting

KOT2 is configuration order type for category 5 (Product cost collector)



5 Master Data Production Order

Pada Proses produksi “Discrete Manufacturing” terdapat 5 bagaian master data PP yang saling berelasi satu dengan yang lainnya yang kita sebut sebagai CONSISTENCY DATA sebelum kita melakukan proses transaksi produksi / Create Order –> CO01.

Ada hal yang harus diperhatikan didalam pembuatan master tersebut yaitu : VALIDITY From adalah wajib pada range satu kesatuan dari 5 master data itu, tidak boleh keluar dari range Validity From.

Master Data Tersebut adalah :
1. Material Master
2. BOM (Bill of Material)
3. Work Center
4. Rouine
5. Production Version

Silahkan lihat video ini, bagaimana menggabungkan ke 5 master data itu, sebaga prasyarat untuk transaksi production Order >

Goods Receipt from Purchase Order

GR = Goods Receipt yang terjadi karena ada penerimaan material/barang ke warehose baik penerimaan dari vendor, penerimaan dari hasil proses produksi dengan movement type – 101.

GI = Goods Issue yang terjadi karena ada pengeluaran material/barang dari warehouse / return ke vendor sehingga posisi stock keluar (-) dengan movement type (201, 261, 601 …)

Didalam Video Tutorial ini diperlihatkan GR dari Purchase Order plus bagaimana cara melakukan proses RELEASE QC dari posisi QI stock ke UU.

SAP PP Integration with FI configuration

integrasi antara PP dan FI terjadi ketika kita create GR dengan/tanpa Production order dan ketika kita create GI karena proses production order.

Yang mana dari proses GR dan GI tersebut terbentuk accounting documents

For Example :
Z001  = Account Category Reference ROH
Z002  = Account Category Reference FERT

A001 = Valuation Class for ROH
A002 = Valuation Class for FERT

ROH = Z001
FERT = Z002

SAP PM – Refurbishment Process

Steps of Refurbishment Process

  1. Procure a new component
  2. GR new component to warehouse
  3. GI component to shop floor
  4. Faulty component is returned back to warehouse
  5. Repair on / Refurbishment the faulty component
  6. Return it back to warehouse
  7. To reuse in the manufacturing Process

Check first Valuation Type

  1. MM01, 02, 03
  2. IW81 (Create Refurbishment Order)
  3. Determine Cost
  4. Release Order
  5.  (MIGO-GI) GI the component
  6. Refurbishment / Repair activity
  7. Confirmation (IW41)
  8. See IDOC Document Flow
  9. GR for the Refurbishment component (IW8W)
  10. TECO
  11. Overhead Calculation (KGI2)
  12. Settlement (KO88)

SAP PM – Configuration New Notification Types

Content:
Configuration – Notification

  1. Define Notification Type
  2. Set Screen Templates for the Notification Type
  3. Define Long Text Control for Notification Types
  4. Set Field Selection for Notification
  5. Define Number Ranges
  6. Assign Notification Types to Order Types
  7. Change Catalogs and Catalog Profile for Notification Types
  8. Define Partner Determination Procedure and Partner Function
  9. Response Time Monitoring
  10. Notification print Control
  11. Object Information
  12. Overview of Notification Types

Define Notification Type

Transaction codeSPRO/
IMG menuPlant Maintenance and Customer Services >> Maintenance and Service Processing  >>  Maintenance and Service Notifications >> Notification Creation >> Notification Types >> Define Notification Types

SAP PP – Budgeting – LTP (Long Term Planning)

Long Term Planning (LTP)

Menyediakan detail uji coba off-line dari simulasi planning scenario semua produksi, purchasing, dan implikasi costing

LTP menyediakan sebuah method untuk :

  • Simulasi dari demand future
  • Leveling Capacity
  • Planning Costs
  • Preview untuk purchasing
  • Preview untuk Inventory management

Long Term Planning Process:

LTP Process memiliki FIVE steps yaitu :
       

  1. Create scenario
  2. Define forecasted Plan in the scenario
  3. Run simulated Material Requirement Planning for the scenario
  4. Analyze the result.
  5. Transfer the results to Purchasing and costing information system

Dibawah ini ilustrasi dari beberapa steps :

Planning Scenario membolehkan berisi pesanan aktual dan permintaan yang diperkirakan.

Planned orders yang disimulasikan dihasilkan sebagai hasil dari run MRP untuk skenario tertentu

Hasil dianalisis dan ditransfer ke sistem informasi

SAP PM – Calibration Process integrated with QM

Test Equipment Management – Overview

  • Calibration Instrumen digunakan di banyak perusahaan untuk melakukan pemeriksaan kualitas. Untuk memastikan bahwa Test Equipment yang digunakan selalu memenuhi kriteria kinerja yang ditentukan, sebagian besar perusahaan secara teratur menguji dan mengkalibrasi Test Equipment mereka.
  • Dengan menggunakan fungsi dalam komponen, Anda dapat mengelola data Equipment, merencanakan dan menjadwalkan inspeksi, serta melakukan inspeksi kalibrasi untuk Equipment.
  • Anda harus menggunakan Manajemen Test Equipment komponen di perusahaan Anda jika:
    Data individu dimaintain untuk setiap bagian dari peralatan uji §Test equipment dikalibrasi secara teratur
  • Inspeksi kalibrasi direncanakan dan dijadwalkan untuk Maintenance Order dan Maintenance Strategy yang berbeda §History hasil dimaintain untuk setiap test Equipment

SAP PM – Corrective Maintenance Order

Agenda – Corrective Maintenance

  • Corrective Maintenance Process Overview
  • Corrective Maintenance Process flow
  • Creation of Maintenance Notification
  • Creation of Maintenance Order
  • Scheduling the Maintenance Order
  • Confirmation of the Maintenance order
  • Technical completion of Maintenance order
  • Closure of Maintenance Notification
  • Overhead calculation in the Maintenance Order
  • Settlement of the Maintenance Order
  • Business completion of Maintenance Order

Corrective Maintenance – Overview

  • Anda dapat menggunakan proses bisnis ini untuk merencanakan, melakukan, dan mendokumentasikan semua task list maintenance yang diperlukan yang muncul di luar maintenance rutin. Semua sumber daya yang digunakan, costs, dan rincian teknis task list  maintenance dicatat secara terpusat dan dapat dievaluasi.
  • Biasanya proses ini relevan jika aset teknis utama menunjukkan defect dan perbaikannya harus direncanakan. Employee dapat melaporkan defect tersebut kepada perencana maintenance yang bertanggung jawab, yang kemudian merencanakan dan memulai bagaimana defect tersebut akan diproses lebih lanjut
  • Di Corrective Maintenance, Anda memperbaiki malfungsi atau kegagalan mesin dengan memunculkan notifikasi di sistem. Work Order diterima oleh teknisi yang memasukkan informasi. Orang yang berwenang dalam sistem PM menyetujui dan menyelesaikan pekerjaan sesuai work order.

Organization Structure SAP PM

SAP Plant Maintenance – Overview

Activities in Plant Maintenance


Enterprise Structure – Overview

  1. Enterprise Structure adalah struktur yang mewakili perusahaan dalam sistem SAP ERP
  2. Itu dibagi menjadi berbagai unit organisasi yang karena alasan hukum atau alasan terkait bisnis dikelompokkan bersama
  3. Enterprise Struktur perusahaan mendefinisikan berbagai tingkatan dalam sebuah organisasi

Organizational Units in PM

PP PI Sheets and Process Management

Agenda: Process Management

SAP PP PI Sheets and Process Management
Point – point yang mesti diperhatikan dalam persiapan dan pembuatan PI Sheets dan process management adalah sebagai berikut :

-Proces PP PI sheets setelah process order di RELEASE
-PI Sheets itu bisa difungsikan dengan tujuan untuk otomatisasi pada proses : ( GI / GR / Konfirmasi )
-Step2 nya adalah (Release order – Control Recipe From Order – Control Recipe Monitor / CO53 – PI Sheets / CO60 – Process Order Message Monitor / CO54)

Proses Instruction dan Destination dapat dicheck di konfigurasi PPPI
Kemudian melengkapi master data order (BOM, Resource, Master Recipe dan PV).
Pada master Recive akan di assign ( Process Instruction + Destination).
Untuk lebih jelasnya silahkan tonton video tutorial dibawah ini :

SAP PP PI – Process Manufacturing from master data to create order

Agenda: Process Manufacturing

Process Industry Overview
Master Data required for PP-PI
Structure of Master Recipe
Operations and Phases
Relationship between phases
Production Versions
Planning Process in PP PI
Process Order Creation
Process Order execution

PP-PI is designed for the batch oriented process manufacturing companies like pharmaceutical, food, beverages, tobacco etc.

Process manufacturing forms an industry type where in the products which are manufactured cannot easily be disassembled once they are manufactured.

It is impossible to be reworked upon these products. You can say making chemicals, medicine, towels, paper, steel etc.

The production process is carried out in batches, i.e., non-reproducible units are characterized by certain specifications.

Catalog Profile – Topics covered

What are catalogs
What are codes and code groups
What is catalog Profile
Use of catalog profile

Catalogs

  1. Catalog adalah kombinasi dari code groups, yang dikelompokkan menurut content/isinya
  2. Mengunakan catalog untuk define, manage, dan standardize information (contoh, defect types, characteristic attributes, tasks) secara konsisten untuk semua clients atau plants.
  3. Jika menggunakan catalog, hal itu mudah untuk me-record dan evaluate qualitative data dan mendeskripsikan objects.
  4. Didalam catalog, information diassign secara unique alphanumeric code dan text penjelasan.

Catalog Profile

  1. Sebuah kombinasi code groups dari catalog yang berbeda beda  yang dikelompokkan sebagai nilai yang di allowed untuk notification processing.
  2. Ini menentukan kode grup yang akan dapat diakses dari berbagai catalog untuk merekam items, tasks, dan aktivitas dalam notifikasi.
  3. Anda dapat menetapkan catalog profile kedalam master record untuk technical object atau notification type
  4. Jika objek teknis dan jenis notifikasi keduanya memiliki profil katalog, profil katalog dari objek teknis selalu dibaca terlebih dahulu saat notifikasi dibuat dan disalin.

Configuration – Production -Shop Floor Control

Daftar Isi

Production
Configuration – Shop Floor Control

  1. Define Order Type
  2. Define Order Type Dependent Parameters
  3. Define Number Range Order
  4. Define Checking Control
  5. Define Scheduling Parameters for Production Orders
  6. Define Confirmation Parameters

PRODUCTION
Tujuan

Bagian konfigurasi ini mencakup pengenalan konfigurasi produksi untuk menentukan order type pada production order dan konfirmasi.

Configuration – Shop Floor Control
Define Order Type
Use.
Order type adalah klasifikasi tipe produksi. Ini diperlukan untuk pembuatan production order dan informasi terkait seperti tipe proses produksi, settlement dan penentuan number range pada masing-masing order type

Define Order Type Dependent Parameter
Use
Pada langkah ini, akan ditentukan parameter-parameter yang valid untuk setiap jenis order type dan plant order type dependent parameters adalah parameters – parameters yang mempengaruhi cara order type proses.

Pemilihan manual Production Version/PV dapat diatur, dengan task list type menggunakan ‘N’ untuk routing dan BOM application adalah PP01 (Produksi – General). Status change Dokumen untuk order header, operation, material dan Production Resources/tool.

Dokumentasi goods movement diatur saat GR untuk purchase order, GR untuk production order, Goods issue yang direncanakan dan goods issue yang tidak direncanakan. Untuk controlling, tidak ada costing variant yang ditetapkan dan tidak ada planned cost ditentukan saat menyimpan  production order.

How is it customized?

Details configuration:
0001 – Planning

PP01 – Implementation

PP01 – cost accounting

PP01 – Display Profiles

Define Number Range
Use

Dalam opsi menu ini digunakan untuk menentukan number ranges untuk orders. Setiap order di assign ke sebuah number range group via order type ini. Diassign beberapa  order types ke   number range yang berbeda. Konfigurasi ini digunakan untuk internal number, lalu system secara automatically menetukan sebuah urutan number ketika ada order yang dicreate dari  number range yang dispesifikasikan oleh user.

How is it customized?

Define Checking Control
Use

Checking Control mendefinisikan bagaimana Production Order akan dikontrol oleh beberapa Availability Checks.

How is it customized?

Detail Configuration
Availability Check 1

Availability Check 2

Define Scheduling Parameter for Production Order
Use
Scheduling Parameters untuk Production Orders adalah parameters yang terkait dengan Production order scheduling

How is it customized?

Details Configuration :
0001 – PP01

Define confirmation Parameters
Use
Didalam IMG activity ini, akan didefinisikan confirmation parameters per plant dan order type.

How is it customized?

Details Configuration :
0001 – PP01
Generally Valid settings

Individual entry general

Indiv. Entry of operation w init.screen

Finish.


Production Order Cycle

Definition :

Pada Production Order akan didefinisikan material apa yang akan diproses,di lokasi mana, pada waktu kapan, dan seberapa besar usaha yang dibutuhkan. Pada Production Order juga akan didefinisikan work center mana yang digunakan dan bagaimana dengan perhitungan cost-nya.

Function :

Fungsi dari Production Order adalah sebagai alat kontrol produksi,
menggambarkan dan memonitor semua rencana dan actual produksi,sehingga dapat ditentukan kebutuhan akan material dan kapasitas Work Center-nya.

Production Order Flow

Setiap harinya dari team produksi melakukan proses Order creation dari proses sebelumnya yaitu planning prosess / demand management yang di dalam cycle produksi disebut: ORDER REQUEST.

Dari order Request / PIR di run MRP akan menghasilkan Proposal (produksi & procurement) kemudian dari proposal tersebut akan di convert ke dalam production/process order yang kita sebut ORDER CREATION.

Kemudian Order tersebut step berikutnya harus dilakukan MATERIAL Availability Check dan CAPACITY requirement Check sebagai bukti untuk booking material / reserved material dan booking mesin/work center

Kemudian Order akan di PRINT dari admin produksi untuk sebagai juklak / petunjuk pelaksanaan di lapangan / shof floor control, pada form print itu berisi informasi Finished product/FG/SFG, material komponen, uom dengan komposisi dan prosedur-prosedur / task ist dalam proses produksi seperti mixing, pemanasan, pewarnaan dan begitu pula jika terjadi permasalahan akan dicatat di shop floor untuk dikembalikan ke admin produksi.

Untuk lebih jelasnya silahkan tonton video dibawah ini :

Capacity Requirement Planning (CRP) in PP

  • Capacity Planning Overview
  • Capacity Planning Elements
  • Settings for Capacity Planning
  • Maintaining available Capacity
  • Capacity Evaluation
  • Capacity Leveling
  • Mass Processing
  • Capacity Reduction

Capacity Planning Overview

  • Capacity availability check tidak ikut diproses dengan Material Requirements Planning (MRP).
  • Capacity Planning harus dijalankan terpisah didalam  step kedua.
  • Master data, planned orders dan production orders menyediakan data yang dapat dipakai untuk merepsentasikan available capacities dan capacity requirements.
  • Available capacity adalah ukuran/setup dari pekerjaan mesin yang menunjukan kapasitas pekerjaan mesin per workday.
  • Capacity requirement  adalah  ukuran dari permintaan pekerjaan oleh individual orders  pada  kapasitas pada  waktu tertentu.
  • Capacity requirements dicreate ketika planned orders atau production orders dibuat.
  • Didalam  Capacity evaluations, requirements ini dapat dicompare dengan available capacities.
  • Didalam Capacity leveling, capacity shortfalls/underload dan overloads dapat di leveled/dipindahkan ke level lain. Anda dapat menggunakan cara alternative  resources yang cocok untuk anda mengatur perencanaan agar menjadi optimal.

Strategy Group 25 – Make To order. Configurable Material or Variant Configuration

Whenever order comes the order will be transferred to the production where the assembly process be involved and gives the delivery schedule to the customer, just assembly the process in order to reduce the time and quickly be delivered to the customer.

Variant Configuration

Variant Configuration is for manufacturing complex product in which customer determines the features of the product. Objective of variant configuration is to react quickly to customer’s requirements.
Here it needs not to create separate material for each variant of a product. When companies introduce variant configuration this often beyond a business process re-engineering project.

Variant configuration offers an opportunity to restructure product structures for which then process are defined. This has a direct impact to the core areas such as marketing and product data management.

ADVANTAGE OF VARIANT CONFIGURATION

  1. No need to create separate material master for each variant combination
  2. BOM and routing is enough for representing all possible variants and operations
  3. Able to react more flexible to customer demand.
  4. Increase information exchange between sales, engineering and production

CONFIGURABLE MATERIAL

  1. A material with different features or characteristics and options is known as configurable material. Example: PC, Car, Pump, Cycle, Laptop etc…
  2. Configurable materials are either created in a material type that allows the configuration ( in the standard system, the material type KMAT) or they are given the indicator configurable in the material master record.

Steps to perform variant configuration
—————————————————

  1. Characteristic – CT04
  2. Class – CL01
  3. Configurable material with material type – KMAT – MM01
  4. Sales BOM for the configurable material – CS01
  5. Configurable profile for the configurable material – CU41
  6. Assign object Dependencies – CT04
  7. SD condition records – VK11
  8. Sales Order – VA01

Then we can the display or result of the variant configuration.

Material Cycle








Create Class




Create Material Configurable

CREATE PROFILE CONFIGURABLE MATERIAL  à CU41




Create Price Condition VK11
PR00  and VA00



PR00



VA00



Create Sales Order / SO –> VA01

Finish

SAP PP – SERIAL NUMBER MANAGEMENT

Serial Number in SAP PP.
Serial Number is also a master record as it will be unique for a particular material.

The serial number will be mostly given at the time of delivery and this can be effectively controlled by the serializing procedure.

We use serial number to identify a product unique and to provide our self with an overview of which product. We have sold to which customers. The serial number is only unique in conjuction with a product.

For example: Cell phone CELL PHONE000012345 or ENGINE000012345

For Example, you can use serial numbers in the following instances.

1.       If a customer returns a damaged engine you can determine whether it is actually the engine that you supplied the with

2.       During quality control you determine that a production error has occurred you can identify the

affected product groups by using serial numbers. if necessary you can also identify the customer to which you have already sold damaged products and inform them of this.

3.       If a freight forwarder damages a pallet during transportation, warehouse management people can show us which engines were on the palette and could now potentially be damaged

Steps to Perform.

1.       Create serial number profile in configuration setting four digit key that provides unique identification number for a serial number profile

2.       Maintain serial number profile in the material master MM01

3.       Create production order

4.       Release production order – serial numbers are created automatically

5.       Confirm production order

6.       GR WREF to production order

7.       Monitor MMBE here we can see the list of serial numbers

Create Material Master Finished product, Check in Basic Data View, Satuan nya mesti PC, pada Work Scheduling dapat dimasukkan profile Material number + profile Scheduling

Create BOM (Bill of material)
Create Work Center

Create Routine

Create Production Version

Create Production Order atas Finished Producti itu :

Perhatikan pada Tab CONTROL. (sudah masuk Profile)

Jika saat create production order baru muncul pesan error seperti dibawah ini :

Entry SC31 P123 does not exist in TCO43 (check entry)

Artinya di material master – work scheduling views  harus digabungkan antara profile scheduling dan profile serial number

Kemudian SAVE,

Perhatikan pada order yang akan dibuat TARGET QTY. maka akan dibuatkan sejumlah serial number sebanyak itu.

Lalu untuk maintain SERIAL NUMBER di ORDER, 

Header  à Serial number

Kemudian kita lakukan proses terakhir yanitu GR.

Kemudian kita lakukan proses terakhir yanitu GR.

Kemudian check di MMBE

Environment  –> Equipment /serial number

SALES AND OPERATION PLANNING (SOP)

Suitable for long/medium term planning, with an aim to streamline a company’s sales and operational planning, SOP is a forecasting tool enabling you to set up sales, production and other supply chain targets based on existing, future or historical data, SOP is most suitable for planning finished goods and not for material component planning.

SOP plans are passed on to demand management (DEM) in the form of independent requirement which in turn is fed into MPS (master production scheduling) and MRP (material Requirement Planning).

The results of SOP can be passed on to profitability analysis, cost center accounting and activity based costing

SOP provides convenient method for sales quality planning, production quantity planning, medium and long term planning. An SOP is created for individual product or for product groups

the production planner use the SOP created by the marketing department to generate a 12 month production plan.

The production plan can be created for individual product or for group of product.

The production quantities are calculated by comparing the forecasted quantities with the target inventory level at the end of each month

Product A – 60%
Product B – 40%

Product plan – 100   200   300   400   500   600   700   800

Product A          100*60/100, 200*60/100, 300*60/100, 400*60/100, 500*60/100, 600*60/100
Product B          100*40/100, 200*40/100, 300*40/100, 400*40/100, 500*40/100, 600*40/100

Process Flow of standard SOP:

  1. Create material master with material type FERT – MM01
  2. Create Product Group – MC84
  3. Create Plan – MC81
  4. Copy Planning Version – MC78
  5. Change Plan – MC87
  6. Transfer Planning Data to Demand Management – MC75
  7. Change Plan – MD62
  8. MRP RUN – MD03
  9. Stock / Requirement List – MD04
  10. Planned Orders are converted to next preceding documents
  11. MRP Run  à MD02

The above PIRs are converted into planned orders

  1. Planned Orders further converted into production order  à MD04

You can tcode CO40 (convert PIR to production order)

  1. Release production order
  2. GI for production order  à MB1A / 261
  3. Confirm production order  à CO15
  4. GR Wref production order  à  MB31 / MIGO
  5. Stock overview, MMBE

PRODUCT A = Material 990000000000000103 – BOM:  96.0110000 – Routing
PRODUCT B = Material 990000000000000104 – BOM:  96.0110000 – Routing

Repetitive Manufacturing Process Steps

  1. Create Rep MFG Profile in config Settings
  2. Create MMR for raw materials and fin components – MM01
  3. Create BOM – CS01
  4. Create Work Center – CR01
  5. Create Rate Routing – CA21
  6. Create Production Version – C223
  7. Create Product Cost Collector – KKF6N
  8. Create PIRs – MD61
  9. MRP Run – MD02
  10. Stock / Requirement List – MD04
  11. Planning Table – MF50 – Line Loading
  12. REM Backflushing – MFBF
  13. Monitor MMBE and MD04

Setelah anda melakukan proses Define Profile REM pada config, maka anda harus mengaktifkan beberapa point pada master data material Finished Product / Raw Material.

Pada Material Master Product perhatikan pada inisialisasi :

  1. Material FG – Views MRP4 , define thick REM dan masukkan profilenya ZREM
  2. Material FG – Views Accounting 1
  3. Material ROH – thick Backflushing

Pada config – SPRO perhatikan pada inisialisasi :

  1. Production – Repetitive manufacturing – Control – Define repetitive manufacturing profile
  2. Define distribution keys
  3. Maintain Distribution for planning table
  4. Define Rate Routing pada plant

SAP PP Integration with SAP FI

Didalam modul PP & FI terjadi integrasi pada proses create GR dengan atau tanpa Production order.
Dan ketika proses create GI tanpa production order dimana masing masing akan terbentuk Accounting Document.

For Example :
Z001  = Account Category Reference ROH
Z002  = Account Category Reference FERT

A001 = Valuation Class for ROH
A002 = Valuation Class for FERT

ROH = Z001
FERT = Z002

Configuration Account Determination

SPRO.

Material Management  –  Valuation and account assignment  – Account Determination –
Account determination without wizard :

  1. Define Valuation Control
  2. Group together valuation area
  3. Define Valuation Classes
  4. Configure automatic postings


Implementation in system Production Order

  • Create material master –> MM01, 2, 3
  • Create BOM  –> CS01,2,3
  • Create Routine  –> CA01, 2, 3
  • Create MB1C / 501
    “Account determination for entry INT GBB B1B2 ZOB A001 not possible”.
    “Account determination for entry INT BSX B1B2 A001 not possible”.
  • Create MB1A / 261
    “Account determination for entry INT GBB B1B2 VBR A001 not possible”.
  • Create CO11N
  • Create GR MB31 /101
    “Account determination for entry INT GBB B1B2 AUF A002 not possible”.
    “Account determination for entry INT BSX B1B2 A002 not possible”.
  • Create GR without production order MB1C /521
    “Account determination for entry INT GBB B1B2 ZOF A002 not possible”.

For Checing & maintenance with tcode OMWD & OBYC

OBYC

PI Sheets for plant 1000 session 1

Diagram PI Sheets terbagi kedalam 4 bagian pokok :

1. Process Planning
2. Process Management
3. Process Control
4. Execution

Stepnya adalah anda harus mempersiapkan master recipe ( C201,2,3 ) yang akan digenerate dimana didalam master recipe didefine instruksi & destinition.
Misalnya kita akan melakukan goods issue dengan menggunakan instruktur yang akan dipasangkan didalam master recipe.

  1. SPRO

Process Management à Process Instructions à Define Process Instructions Categories (General).
Mendefine Process Instruction Category

  1. SPRO
    Process Management à Control Recipe / PI Sheets à Control Recipe destination


Mendefine control master recipe destination

  1. Master recipe

Mendefine Process Instruction Category vs control master recipe destination
testing and Save Configuration.

How to Create Process Order

Create Process Order dapat digenerate dengan 2 cara :

1. dengan cara hasil proses planning dengan mengkonvert dari planned Orde ke process order
2. dengan cara manual dengan tcode COR1

Demand Management di suggest dari Material Forecast dan Sales & Distribution.
kemudian dilakukan process run MRP maka akan didapatkan proposal berupa Planned Order
Kemudian Planned Order tersebut akan di convert ke process order.

Perhatikan gambar dibawah ini memperlihatkan life cycle process Produksi.

Process Manufacturing SAP PP PI

  • Process Industry Overview
  • Master Data Required for PP PI
  • Structure of Master Recipe
  • Operation and Phases
  • Relationship between phases
  • Production Versions
  • Planning Process in PP PI
  • Process Order Creation
  • Process Order Execution

Overview – Process Manufacturing

  1. PP PI adalah dirancang untuk process manufacturing yang menggunakan orientasi BATCH, seperti company pharmaceutical, food, beverages, tobacco dll.
  2. Model process manufacturing dalam suatu company adalah dimana product yang dihasilkan tidak dapat didisassembly / diurai kembali.
  3. Juga hasil product tidak mungkin di rework kembali seperti ketika membuat product seperti chemical, medicine, towels, paper, steel dll.
  4. Process produksi yang dihasilkan membentuk kode batch yang tidak dapat reproduksi karena mempunyai karakteristik dari spesifikasi tertentu.

Variant Configuration SAP PP (LO- VC)

Apa yang dimaksud dengan Variant Configuration pada SAP PP ??

Sebelum kita masuk ke materi & simulasi SAP PP tentang VARCON (Variant Configuration),
saya akan menjelaskan terlebih dahulu terminologi, business process yang terjadi dimanufacturing – Varcon.

Materi VarCon ini akan saya bagi kedalam pembahasan secara urut agar dapat dipahami secara utuh dan faham penggunaannya di manufakturing yang sekarang sedang IN (banyak dipakai dibisnis penjualan yang disesuaikan dengan pesanan customer.

Materi :
1. Overview
2. Vaiant Configuration Component
3. Integration

OVERVIEW :

Variant Configuration digunakan pada saat terjadi banyak pesanan material FG berdasarkan variasi pesanan dari customer, produknya sangat banyak variasi.

Config setting VARCON bisa dengan 2 cara yaitu :

  1. Material configurable
  2. Material variant

Dengan VC tidak lagi membuat SKU yang banyak kode yang disesuai dengan variasi namun hanya dengan 1  SKU material yang mempunyai beberapa characteristic value.

Secara stock 1 SKU namun variasinya di level transaksional dari SO Customer.

Flownya Customer menentukan varian pesanan kemudian akan mentrigger SAP PP dengan memilih  menggunakan BOM dan routing  dan value mana saja yang akan disesuaikan dengan pesanan customer

Standard BOM dan routing nya mendefine kemungkinan – kemungkinan yang akan dipesan dari customer dengan cara menentukan “Object Depedency”.

Lalu bagaimana dengan costing VARCON ?

Costingnya ada dilevel SO costing tidak menggunakan standard COGM (BOM & Routing).
Costing sangat tergantung dari SO Customer.

Contoh Industri yang menggunakan Varcon, industry Otomotif, Aircraft, Steel.
Misalnya untuk industry Steel, SO Customer materialnya bisa menggunakan sebanyak kombinasi antara : THICKNESS+WIDTH+COATING+COLOR+SPECIFICATION.

Ini bisa di maintain sebagai material configurable atau material variant !!


Material Configurable = 1 SKU mempunyai beberapa kombinasi characteristic & value yang berbeda beda
Material Variant = beberapa SKU varian yang mempunyai masing-masing characteristic & value yang unix.

COMPONENT VARCON :

  1. Characteristic  (Thickness, Width, Coating …)
  2. Class – 300   (Pipe)
  3. Configuration Profile (prerequisites, sequence untuk menghubungkan material, class, OD)
  4. Object Dependencies  (role of business, batasan, ketentuan)
    1. Precondition
    1. Selection condition
    1. Procedure
  5. Variant Tables (table semua kombinasi spesifikasi characteristic, value & pricing)

STRUCTURE VARCON

-Varian Class  à Material Master ->  Configuration Profile
-Material Master à Super BOM  -> Super Routing
-Variant Table

Object Dependency
– Precondition
untuk menentukan characteristic value sebelum diinput / menghide beberapa characteristic sebelum diinput.
ex.  $SELF.GEARS = ‘19’
 ex.  $root.MODEL SPECIFIED

– Selection Condition
 Varian yang dipilih yang sesuai akan digunakan pada object lain.
 Ex. Characteristic HANDLEBAR mempunya value : (Standard dan Mountain)
      Dari value itu mempunyai komponen BOM yang berbeda dan juga Routing yang berbeda dengan
sequence task list yang dapat ditentukan.

– Procedure
     adalah untuk menentukan rule of business.
     Ex.  Operation in task list, jika characteristicnya mempunya ketebalan/thickness yang berbeda, maka
akan menggunakan mesin yang berbeda pula.
     Ex. Qty BOM standard = 2, jika menggunakan characteristic backpedal, Qty BOM = 3  
           $SELF.QUANTITY = 3 if BACKPEDAL = ‘Yes’

Master Data

  1. Characteristic  -> CT04
  2. Class  -> CL01 (300)
  3. Material Master Configurable  à MM01/MM02 (basic data 2, Sales Org 2 – item cat.group=0002, MRP3 – 25)
  4. Configuration Profile -> CU41, 2, 3  à OD
  5. Material Master Variant (MRP3) need material configurable nya
  6. Super BOM -> CS40 menentukan characteristic dgn variant
  7. Super Routing  -> CA02
  8. Tabel Variant Conditions -> CU60
    CU60  -> untuk isi table
    CU61,2,3  -> Create/Change/Display table
  9. Tentukan Varian Condition -> VK30
  10. Maintain Condition Type -> VA00
  11. Maintain Pricing Condition  -> VK11/VK12

For Example Varcon

What is LSMW ? (Legacy System Migration Workbench)

LSMW – (Legacy System Migration Workbench)

·         It is a special form of data migration that is used in SAP, to transfer data from legacy systems and to the SAP system.
LSMW is ideal for Master Data and does not require too much coding

·         LSMW also supports conversion of data of the legacy system in a numerous way.
The data can then be imported into the SAP R/3 system via batch input, direct input, BAPI or IDOC.

·         Furthermore, the LSMW provides a recording function that allows generating a “Data Migration Object” to enable migration from any required transaction.

LSMW
Create Project, Subproject and Object.

Configuration of SAP QM

Basic Setting and
QM in Logistics – QM in Procurement

  1. Setting Up Client
  2. Maintain Setting at Client Level
  3. Maintain Setting at Plant Level
Config – Basic Setting – Setting at Clients
Config – Basic Setting – Setting at Client Level
Config – Basic Setting – Setting at Plant Level

Config – Basic Setting – Setting at Plant Level
Basic Data.

Insp. Lot Creation

Result Recording

InspLot Completion

General Setting

QM in Logistics – QM in Procurement
define control key.

Implement – pada material master / MM01,2,3 – Quality management Views.

QM in Logistics – QM in Procurement
define keys for certificate processing

QM in Logistics – QM in Procurement
define delivery block

Implement – pada Sales Distribution / XK05

QM in Logistics – QM in Procurement
document document types

QM in Logistics – QM in Procurement
define QM system

QM in Logistics – QM in Procurement
define status of supply relationships

Control Charts in Quality Management

Step by step how to create Control Charts / SPC

  1. Create Material Master with inspection type – 89
  2. Create MIC – QS21
  3. Create Sampling Procedure – QDV1
  4. Create Inspection Plan – QP01
  5. Create inspection Lot Manually – QA01
  6. Result recording – QA32
  7. Usage Decision – QA32
  8. Create Control Charts for MIC – QGC3

Create Material Master with inspection type – 89

Create Master Inspection Characteristic – QS21

Characteristic SC31 LENGTH-8 21.02.2021 was created

Create Sampling Procedure – QDV1

Sampling procedure QM-SDP02 was created

Create Inspection Plan – QP01

Inspection plan with plan group 16 for material 990000000000000060 is saved

Create inspection Lot Manually – QA01

Result recording – QA32

Create Control Charts for MIC – QGC3

Quality Notification / QM01,2,3

Recording Permasalahan pemrosesan (Deviation & Defect) didalam system disebut Quality Notification.
Ada 3 type Quality Notification :

  1. Notification from Vendor / Vendor complaint / Purchase Order
  2. Notification from Process Production / internal Problem / Prod.Order
  3. Notification from customer / Customer Complaint / Sales Order

Quality Notification contains the 3 Partners

-Author is the person who will create the internal problem notification
-Coordinator is the overall person responsible for the notification
-User Responsible is the person required to carry out correction tasks and corrective actions


Steps for Quality notification

  1. Create Quality Notification – QM01,2,3
  2. Put in Process Notification – QM01,2,3
  3. Complete Notification – QM02
  4. Display Notification – QM03

Inspection with Physical Samples

There are 3 types of Physical samples

  1. Primary Samples
  2. Pooled Samples
  3. Reserved Samples

Primary Samples
Sample which are taken directly from quantity for quality analysis – chemical/physical analysis for testing

Pooled Samples
sample are created by mixing the primary sample – analysis done after creation

Reserved samples
sample directly taken from inspection quantity and placed in storage until expiry – no analysis done

Sample Drawing Procedure – all theses 3 samples are further maintained in sample drawing procedure

Step to perform physical sample

  1. Sample Drawing Procedure – QPV2   code is QM-SDP01
  2. Create a material master with inspection type 89
  3. Check Sampling Procedure – QDV2
  4. Assign sample drawing procedure in inspection plan – QP02
  5. Create manual inspection lot, QA01
  6. Change inspection Lot, QA02
  7. Result recording
  8. Usage Decision
  9. Display physical sample QPR2, QPR3

Inspection for delivery to customer with order and Make to Order / MTO Strategy

  1. Create a material master with inspection type – 10  ,  MM01
  2. Create material as Batch and Strategy MRP in MRP2 —  20
  3. Configuration :   Quality Management -> Quality Inspection -> Inspection at shipping
  4. Create inspection plan, QP01
  5. Create Sales Order,  VA01
  6. Run MRP – MD02
  7. Conver Planned Order to Production Order -> MD04
  8. MIGO – GR
  9. Create Delivery wref to sales order, VL01N
  10. Result recording, QA32
  11. Usage Decision, QA32
  12. Create PGI, VL02N
  13. Monitor Stock Overview, MMBE

Check Material master with inspection type – 10
MM01, 2, 3

Check Batch Management is actived

Maintain configuration in SPRO.
Quality Management – Quality Inspection – Inspection at shipping

Create Inspection Plan   –  QP01

Quality Management in Plant Maintenance / PM

Calibration inspection process

  1. Create Equipment   -> IE01, IE02, IE03
  2. Create Master Inspection Characteristic  -> QS21, QS22, QS23
  3. Create Equipment Task list  ->  IA01, IA02, IA03
  4. Create Maintenance Plan  -> IP41
  5. Schedule Maintenance Plan  -> IP10
  6. Release The Calibration Order  -> IW32
  7. Confirm the calibration order  -> IW41
  8. Result Recording  -> QA02
  9. Usage Decision   -> QA02

Note.

SPRO.
– Plant Maintenance & custom Service
– Maintenance and service processing
– Maintain and service order
– Function and setting for order types
   -> Assign inspection type to maintenance/service order types

Create Equipment à IE01, IE02, IE03

Create Master Inspection Characteristic  à QS21, QS22, QS23

Create Equipment Task list  à  IA01, IA02, IA03

Create Maintenance Plan  -> IP41, IP42, IP43

Schedule Maintenance Plan  -> IP10

Nomer Inspection Lot #  :   140000000102

Release The Calibration Order  -> IW32

SAP Quality Management in Sales Distribution / SD

QM in SD take place in the following business scenarios:

  1. Inspection for delivery to customer w/o order before delivery
  2. Inspection for delivery to customer w/o order after delivery
  3. Inspection delivery customer returns

Inspection for delivery to customer w/o order before delivery

  1. Create a material master with inspection type – 11  ,  MM01
  2. Create QM control data in SD  – QV51, 2, 3
  3. Create inspection plan
  4. Maintain the stock for material  – MB1C  / 561
  5. Create Outbound Delivery w/o order reference  – VL01NO
  6. Result recording
  7. Usage Decision

Check Material master with inspection type – 11
MM01, 2, 3

Create QM control data in SD  – QV51, QV52, QV53

Create Inspection Plan   — > QP01 

Create Outbound Delivery w/o order reference  – VL01NO

Delivery w/o Ref. 80000084 has been saved

Result Recording / RR

Usage Decision / UD

SAP Quality Management in Production / PP

These two modules integration takes place in 2 areas or 2 ways

  1. In process inspection
  2. GR inspection

In process inspection means during the production in between the process the inspection takes place and here again 2 types of inspection process take place they are:

  1. Single time inspection
  2. At regular interval

In process inspection

  1. Quantity based inspection suppose if we are producing let us say for example 100 kgs of the material stock then the inspection take place 25 kgs at regular interval
  2. Time based inspection means for example if we are producing the finished component let us say for example for 4 hours irrespective of the quantity then every 1 hours inspection takes place
  3. Free inspection – means without any condition then the production department will go for inspection without any quantity or time based inspection

GR inspection

Inspection takes places at the time of GR wref to production order

Master Data in PP

The different master data available in SAP PP are

  1. MM
  2. BOM
  3. Work Center
  4. Routing

Material Master  – we needs some raw materials created with ROH for example in the standard
when need a finished material created with FERT with inspection type – 03

Create BOM – CS01, 2, 3
Create Work Center – CR01, 1, 3
Create Routing – CA01, 2, 3 
Create Inspection – QP01, 2, 3

GR inspection after production order  – Insp.Type = ‘04’

  1. Create Production Order  à  CO01, 2, 3
  2. Release Production Order  à CO02
  3. Create inspection Plan  à QP01
  4. GR wref  Production Order  à MIGO atau  MB31
  5. Result Recording  à QA02
  6. Usage Decision  à QA02
  7. Stock posting
  8. Monitor Stock Overview  à MMBE

Please watch in vedio tutorial for completing scenario

SAP QM in Procurement (MM)

Langkah – langkah dalam melakukan inspeksi pada saat GR by purchase Order

  1. Create material master & maintain the inspection type ‘01’
  2. Check in Purchasing-Views batch nya harus di Centang
  3. Create Inspection Plan
  4. Create purchase order
  5. Create good receipt
  6. Check stock in MMBE
  7. Release with QA32 Change Result Recording
  8. Release with QA32 Change Usage Decision
  9. Release with QA32 Stock Posting

Pada material master check di purchasing views dan Quality management Views

Create Inspection Plan

Create Purchase Order / Vendor

Create GR by purchase order

Check MMBE

Material Specification in QM

Model task list / inspection plan yang versi sederhana.

Step step :

  • Maintain material master dengan mengaktifkan versi material specification pada indicator inspection type.
  • Mengkonfigurasi material specification di SPRO
    • Quality management à Quality inspection à Inspection lot creation à Maintain inspection type
  • Create material specification dengan tcode : QS61, QS62, QS63
  • Create inspection lot manually
  • Create Result recording
  • Create Usage decision
  • List of quality inspection

Maintain Material in QM Views

Select indicator 89 dan thick “Insp. With Mat. Spec.” dan meng-unthick “Insp. With task list”


Maintain configuration in menu path as below :

Quality management à Quality inspection à Inspection lot creation à Maintain inspection type

Create Material Specification in Quality Management 

QS61, QS62, QS63

Untuk melanjutkan Cara inspeksi dengan Result recording & UD, Silahkan tonton video dibawah ini, atau ikut member area …. Ok

Catalog Profile and Inspection Method

Catalog Profile

Catalog Profile berisi subset kode dan kode dari berbagai type katalog dan Catalog Profile ini akan dimaintain didalam notification.

Tcode untuk membuat Catalog profile adalah OQN6. Contoh :  CATPRF01  = Catalog Profile for QM

Thick Catalogs / Code Group Setelah Cat.Prof. = CATPRF01 di select.

Inspection Method

Inspection Method adalah suatu cara untuk melakukan analisa kualitas tertentu.

Misalnya :
Tablet kita simpan di dalam larutan pada waktu tertentu dengan suhu tertentu dan memutar nya dan mengambil beberapa pengukuran dalam proses.

Ini disebut sebagai Inspection Method. Dan next Inspection Method akan ditetapkan pada Master Inspection Characteristic / MIC.

Tcode yang dipakai adalah QS31, QS32, QS33

Step Scenario Inspection Method  :

  1. Create Inspection Method
  2. Created code Group & selected Set
  3. Create / Change Master Inspection Characteristic / MIC
  4. Create material master /MM
  5. Create / Change Inspection Plant
  6. Create Manual Inspection Lot
  7. Print Document QIM

Create Inspection Method QS31, QS32, QS33

Create Code Group & Selected Set   QS51, QS52, QS53

Kemudian Highlight Color-9

Review Materi SAP PP, QM dan MM

Di halaman ini saya akan membahas secara lengkap semua materi SAP yang sudah di garap, sedang di garap dan yang akan datang. Dimana pembahasan materi akan meluas ke pembahasan SAP SD & SAP PM yang tentu saja saya anggap masih related yang berada di area logistik.

Adalah sangat perlu sekali untuk consultant SAP PPQM mengetahui secara proses yang terjadi di modul logistik itu agar mendapatkan pemahaman yang utuh dari suatu proses SAP.
Karena SAP itu sendiri sangat menganut integrasi, centralisasi & korelasi antara modul-modul lain.

Untuk itulah saya membuat konsep ini yang berdasarkan pengalaman dan analisa dari bebagai kebutuhan SAP.

Untuk bisa saling berbagi dengan mengenal lebih lanjut :
Silahkan invite di :

Hp/WA      :  0877-8924-1535
Email          :   ahmadyusufarif@gmail.com

Selamat menyimak review materi SAP PP, QM, MM. Session 1, 2, 3 dan 4.

Review Materi SAP Session 1

Review Materi SAP Session 2
Review Materi SAP Session 3
Review Materi SAP Session 4

BackFlushing SAP PP & Inspection Lot Created SAP QM

Bagaimana cara mentrigger / backflush agar saat diproses konfirmasi tercapture ke dalam actual order secara otomatis ?
Bagaimana cara menghubungkan proses produksi agar ter create inspection lot after production ?
Perhatikan setting di material master untuk backflush dan QM setup.

Di Video Tutorial ini saya membahas proces produksi backflush integrated dengan proces inspection lot pada produksi, silahkan anda pelajari video nya, mudah-mudahan membantu memahami backflush vs Inspection QC. in QM

Untuk anda yang ingin tanya jawab / mendapatkan materi secara lengkap, silahkan menghubungi Hp/WA  :   0877-8924-1535 atau Email  :   ahmadyusufarif@gmail.com

Selamat menonton !!

Review Materi.sapindonesia.net

http://www.materi.sapindonesia.net

Di sesi ini saya akan mereview tentang materi syllabus SAP PP, SAP QM dan SAP MM.
Dimana materi SAP PP adalah materi yang sudah lengkap, mulai dari master data PP (Material, BOM, Work Center, Routing dan Production Version) sampai pada planning produksi, demand management kemudian MRP (material requirement planning), production cycle dan yang terakhir adalah configuration.

Sedangkan untuk SAP QM masih in progress dalam kelengkapan materi yang akan dibahas pula mulai dari semua master data QM (sampling procedure, Catalog, selected set, Master inspeection characteristic/MIC, method dan transactional seperti inspection plan, inspection lot manual dan integrasi QM dengan modul lain seperti :

  1. QM dengan MM (purchase order – GR)
  2. QM dengan PP (production – GR)
  3. QM dengan SD (sales Distribution – DO – PGI)
  4. QM dengan PM (plant maintenance – Callibration – MO )
  5. QM dengan WM (GR)

Dan yang terkakhir adalah pembahasan SAP MM untuk power user, yang dibahas adalah scenario create material master, Create Good receipt, Create Goods Issue, Crate Purchase Requesation, Create purchase order) juga proses stock opname atau disebut PID = physical inventory document.

Semoga dengan hasil karya ini berdasarkan pengetahuan dan pengalaman di SAP dapat berguna dan membantu anda dalam memahami system SAP.

Terima kasih, selamat menonoton video tutorial dibawah ini :

Quality Management in Plant Maintenance

Calibration inspection process

  1. Create Equipment   à IE01, IE02, IE03
  2. Create Master Inspection Characteristic  à QS21, QS22, QS23
  3. Create Equipment Task list  à  IA01, IA02, IA03
  4. Create Maintenance Plan  à IP41
  5. Schedule Maintenance Plan  à IP10
  6. Release The Calibration Order  à IW32
  7. Confirm the calibration order  à IW41
  8. Result Recording  à QA02
  9. Usage Decision   à QA02

Note.

SPRO.
– Plant Maintenance & custom Service
– Maintenance and service processing
– Maintain and service order
– Function and setting for order types
   à Assign inspection type to maintenance/service order types

Create Equipment à IE01, IE02, IE03

Create Master Inspection Characteristic  à QS21, QS22, QS23

Create Equipment Task list  à  IA01, IA02, IA03

Create Maintenance Plan  à IP41, IP42, IP43

Schedule Maintenance Plan  à IP10

Release The Calibration Order  à IW32

Quality Certificates in Quality Management

In SAP QM quality certificate refers to the certificate what you receive from vendor (incoming certificate) and what we give it to customer (outgoing certificate).

Depending on the scenario outgoing certificate can be printed at inspection lot/batch/delivery.
Print certificate we need result which is taken from inspection lot results.

Following are the steps to performed from quality certificates.

  1. Create Certificate Profile  à QC01
  2. Release a Certificate Profile   à QC02
  3. Create Certificate Profile Assignment  à QC15
  4. Create Inspection Lot à QA01
  5. Create Result Recording  à QA02
  6. Create Usage Decision  à QA02
  7. Quality Certificate for the Inspection Lot  à QC21

Recurring Inspection in Quality Management

  1. Create material master & maintain the inspection type ‘09’ dan batch nya wajib di Centang
  2. Maintain interval in QM views in material master
  3. Create Inspection Plan
  4. Create purchase order
  5. Create good receipt
  6. MMBE
  7. RR
  8. UD
  9. Stock Posting
  10. Find the next inspection date with MSC3N
  11. Deadline monitoring of the batch  à QA07
  12. MMBE
  13. QA02

Check Material Master.
Yang perlu diperhatikan di material master adalah check pada Shelf life, Inspection Interval dan QM views harus memasukkan inspection type = 09

Create Purchase Order

Good Receipt

Untuk lebih jelasnya silahkan anda tonton video tutorial dibawah ini :


Automatic Batch valuation

Steps :
1. Create Master Inspection Characteristic — QS21
2. Create Characteristic — CT04
3. Create Class — CL01
4. Create Material master , QM views indicator: 01, 89
5. Change Master Inspection Characteristic — QS22 input class characteristic
6. Create Inspection Plan — QP01
7. Create Inspection Lot — QA01
8. Result Recording — QA02
9. Usage Decision — QA02
10, Check Batch — MSC3N

Create Master Inspection Characteristic — QS21

LENGTH-3

Create Characteristic — CT04

LENGTH_BATCH_QM2

Create Class — CL01

Class type 023: Class CLASS_BATCH_QM2 created

Change Master Inspection Characteristic — QS22/QS23

Create Inspection Plan — QP01

Catalog, Code Group and Selected Set

Description      :  Catalog & Code Group
Tcode              :  QS41, QS42, QS43
Code               :  COLORCG

Description      :  Selected Set Plan
Tcode              :  QS51, QS52, QS53
Code               :  CLRSST

Description      :  Master Inspection Characteristic (MIC)
Tcode              :  QS21, QS22, QS23
Code               :  COLOR-2

Description      :  Inspection Plan
Tcode              :  QP01, QP02, QP03

Inspection plan with plan group 5 for material 000000000000000014 is saved

Description      :  Manual Inspection Lot
Tcode              :  QA01, QA02, QA03

Inspection lot 1000 890000000214 was created

Results were saved for operation 0010

Usage Decision

Usage decision for lot 1000 890000000214 is saved

Description      :  Catalog & Code Group
Tcode              :  QS41, QS42, QS43
Code               :  COLORUD


Sampling Scheme & Sampling Procedure

Kumpulan rencana pengambilan sampel. Rencana pengambilan sampel berlaku untuk ukuran sampel berdasarkan kuantitas lot inspeksi tertentu dan menentukan kriteria untuk menentukan apakah dan bagaimana sampel diterima atau ditolak.

Description      :  Sampling Scheme
Tcode              :  QDP1, QDP2, QDP3
Code               :  SS1

Description      :  Implementasi  Sampling Scheme pada Sampling Procedure
Tcode              :  QDV1, QDV2, QDV3
Code               :  QM1-SS

Manual Inspection Lot (QA01, QA02, QA03)

Inspection Lot adalah meminta Plant untuk melakukan inspeksi kualitas pada jumlah material tertentu atau  equipment atau functional location.

Manual Inspection Lot  à di create dengan cara melakukan proses inspeksi manual, QA01, QA02, QA03 dengan lot origin nya :  89.
Automatically Inspection Lot  à di create berdasarkan dari generate proses lain, missal: proses create GR by Purchase order, create GR by production/process order, create process PGI dll.

Tcode                    :  QA01, QA02, QA03
Contoh Material :  000000000014
Insp.Lot Origin    :   89

Master Data Material, Pada Quality management Views, anda harus memberikan indicator di Inspection Setup dengan indicator : 89 (miscellanaous).

Kemudian anda Create Inp.Lot = QA01.

Inspection lot SC31 890000000250 was created

Inspection Plan QP01, QP02, QP03

Inspection Plan untuk menentukan karakteristik mana/MIC yang akan diinspeksi dalam setiap operasi inspeksi dan peralatan uji mana/Method yang akan digunakan dalam inspeksi.
Anda menggunakan Inspection Plan, misalnya, untuk menjalankan model, masalah barang, penerimaan barang, atau inspeksi berulang.

Tcode   :  QP01, QP02, QP03
Contoh :  LENGTH-1  ( LENGTH )

Inspection plan with plan group 5 for material 000000000000000014 is saved

JIKA ADA YANG MAU IKUT PELATIHAN SAP PP / SAP QM, CHAT YA, THANKS

Silahkan simak Video Tutorial Inspection Plan :

Master Inspection Characteristic (MIC)

MIC adalah characteristic dari suatu object yang sedang di inspeksi.
MIC memiliki 2 type : Kualitatif dan Kuantitatif, Kuantitatif dapat diukur seperti : Panjang, lebar, tinggi diameter dll.
Kualitatif tidak dapat diukur seperti : warna, aroma dll.

Tcode   :  QS21, QS22, QS23, QS24
Contoh :  LENGTH-1  ( LENGTH )

Tcode   :  QS21, QS22, QS23, QS24
Contoh :  COLOR-1  ( COLOR )

Sampling Procedure

Sampling Procedure adalah yang menentukan ukuran sampling suatu inspeksi dalam prosedur pengambilan sampling.
Valuation Mode adalah mendefinisikan hasil inspeksi.
Sampling Procedure adalah diassign untuk fitur di dalam inspeksi plan.

Berdasarkan permintaan, sample material tergantung pada prosedur pengambilan lot percentage sampling, sampling scheme & sampling drawing procedure.

Tcode   :  QDV1, QDV2, QDV3
Contoh :  QM1-PER (Sampling Procedure for Percentage)

   Click tombol Continue 

Tcode   :  QDV1, QDV2, QDV3
Contoh :  QM1-FIX (Sampling Procedure for Fixed Sample)

Member SAP

Untuk anda yang ingin mempelajari SAP PP lebih lanjut, materi nya sudah saya upload di situs
http://www.materi.sapindonesia.net
Disitu anda bisa mendownload semua materi trainning SAP, mulai dari overview, master data, transaksi SAP PP yang saya sediakan berupa file power point (PPT), file video tutorial secara lengkap.

Tentu saja ini untuk yang member area. untuk bagaimana cara mengoperasikan materi tersebut sekilas saya uraikan di video tutorial ini :

Batch Determination Configuration Until Production Order

Create Batch Search Strategy dengan tcode COB1
COB1 adalah untuk meng-assign material type+plant+material yang akan di batch split.

Check kembali prerequisites dari material komponen, apakah sudah tersetting untuk keperluan batch split, pengechekan pada views sbb :

  1. Check di MRP2 – Views
  2. Check di Work Scheduling Views
  3. Check di General Plan data /Storage
MRP2 – Views
Work Scheduling Views
Plant Data / Stor 1

Lakukan Proses Testing Data untuk melihat impack dari Setting & Configurasi Batch determination dengan cara sbb :

  1. Create Data Material komponen dengan beberapa Batch yang berbeda-beda dengan tcode MIGO-GR Movement 501
  2. Check batch yang ter-create tersebut dengan tcode MSC2N, apakah shelf life nya ada
  3. Create Production Order Baru untuk Finished Product yang mengandung Material komponen yang akan dibatch split
  4. Check di production order ke TAB material komponent untuk melihat split batch

Dipastikan hasil akhirnya adalah seperti gambar dibawah ini :

Create Production Order Final